MAAF BLOG INI SEDANG DALAM PENGERJAAN.

Selasa, 16 April 2013

10 Hal Yang Tidak Perlu Dilakukan Sebelum Usia 30

Pada usia antara 20 hingga 30 tahun, menurut dr. Eddy Karta, Sp.KK, kulit berada dalam kondisi paling prima. Terlalu banyak dirawat justru akan berakibat kurang baik untuk kulit. Jika ada perawatan yang boleh dilakukan, biasanya lebih pada kulit yang bermasalah atau untuk menjaga agar kulit tetap pada kondisi prima. Apa saja, sih, hal-hal yang belum perlu dilakukan sebelum usia 30?

1. Hindari peeling yang berat seperti mikrodermabrasi atau chemical peeling berlebihan. Dilakukan jika wajah bermasalah dengan jerawat/muncul freckles. Sebaiknya lakukan di akhir usia 20-an.
Solusi: Lakukan scrubbing secara berkala dengan produk aman dan ringan, maksimal 3 kali seminggu

2. Belum perlu botox.
Botox yang diperbolehkan hanya untuk memperbaiki gangguan otot, seperti kedutan berulang. Anda belum perlu botox untuk mengatasi kerut wajah, karena sel kulit masih aktif dan bisa ditingkatkan kekenyalannya.
Solusi: Untuk mempercantik wajah, lakukan perawatan rutin, jaga makanan, tidur cukup, serta olahraga. Jangan lupa merawat kekenyalan kulit dengan pelembap di pagi hari dan krim malam sebelum tidur.

3. Hindari produk anti penuaan yang agresif seperti filler atau suntik hormon. Kulit Anda masih dalam kondisi prima, sehingga belum perlu filler atau suntikan hormon. Hormon yang berlebihan justru memberi dampak negatif, seperti munculnya bercak dan vlek pada kulit.
Solusi: Pakai produk antipenuaan yang aman dan ringan, seperti krim antikerut atau vitamin antioksidan

4. Jangan mencoba sembarang pemutih kulit
Tak sedikit produk pemutih yang mengandung merkuri. Pemutih ini memang memberikan hasil instan dalam waktu singkat. Jika digunakan dalam jangka panjang, akan terjadi endapan logam merkuri pada kulit. Jika Anda berhenti, kulit tampak lebih hitam dari semula. Sama halnya dengan kandungan hidroquinone pada pemutih. Penggunaan hidroquinone dalam waktu lama membuat warna kulit tidak rata.
Solusi: Gunakan produk pemutih yang terdaftar resmi. Sebaiknya selalu konsultasikan dengan dokter agar kesehatan kulit terus terpantau. Apabila Anda telanjur mengalami salah satu masalah kulit tersebut di atas, segera lakukan perawatan intensif pada dokter kulit. Kulit dapat kembali pada kondisi semula, dengan syarat Anda melakukan perawatan teratur dalam jangka panjang.

5. Jangan mudah tergiur kosmetik berkolagen.
Kolagen memang membuat kulit kenyal & awet muda. Tapi, tak dapat diserap hanya dengan dioleskan. Suntik kolagen sebaiknya ditunda, karena di usia 20-an kondisi jaringan otot dan kulit masih sangat sehat.
Solusi: Untuk merangsang kolagen, Anda dapat mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung protein dan asam amino. Selain itu, Anda dapat menggunakan produk oles yang mengandung tretinoin dalam kadar ringan, dengan pengawasan dokter.

6. Belum perlu suntik vitamin C.
Vitamin C adalah antioksidan terbaik bagi kulit, yang mampu mencegah penuaan dini. Pada usia di bawah 30 tahun, kebutuhan vitamin C masih dapat diatasi secara efektif dengan konsumsi secara oral.
Solusi: Sertakan buah dan sayuran berkandungan vitamin C tinggi dalam menu makan sehari-hari.

7. Jangan sembarangan mengonsumsi suplemen.
Suplemen yang baik untuk kulit adalah yang mengandung antioksidan, antara lain vitamin C dan E. Jangan berlebihan mengonsumsi suplemen. Pada dasarnya isi suplemen satu dengan yang lainnya hampir sama.
Solusi: Cermati kandungan suplemen yang Anda konsumsi. Untuk umur di bawah 30, yang diperlukan adalah suplemen antioksidan seperti tablet vitamin C dan E. Gunakan sesuai dosis harian yang dianjurkan.

8. Sedot lemak (liposuction) belum perlu dilakukan.Lemak tubuh mulai terdeposit pada usia 30 tahun. Sebelum usia tersebut, sistem kerja tubuh kita masih baik, sehingga tak perlu dilakukan sedot lemak.
Solusi: Olahraga teratur, pengaturan pola makan kaya serat dapat menghindarkan penumpukan lemak.

9. Tunda operasi tarik wajah (facelift).
Pada saat umur masih 20-30 tahun, kekenyalan dan elastisitas kulit masih sangat baik. Sehingga, belum perlu dilakukan facelift.
Solusi: Oleskan krim antikerut yang mengandung tretinoin (turunan dari vitamin A untuk menahan proses penuaan, menghambat efek buruk matahari, dan penipisan kolagen).

10. Tunda dulu tummy tuck atau operasi membuang lemak dan kulit di area perut. Perut menggelambir akibat melahirkan membuat banyak wanita merasa perlu melakukan tummy tuck. Tapi, sebaiknya Anda tak melakukannya. Sebelum usia 30, biasanya sistem metabolisme tubuh masih sangat bagus, sehingga kulit daerah tersebut bisa kembali normal dengan bantuan olahraga dan krim oles.
Solusi: Hindari makanan berlemak dan lakukan olahraga pembentukan otot secara teratur.

Telinga Berdenging Mungkin Anda Menderita Otitis

Radang telinga dapat disebabkan oleh bakteri dan virus yang mengendap pada rongga telinga bagian luar, tengah, dan dalam. Bisa juga karena Infeksi Saluran Pernafasan Bagian Atas (ISPA). Kalau tiba-tiba telinga Anda berdenging, bisa jadi Anda menderita radang telinga.

Menurut Dr Agus Subagio SpTHT, dari RS. Puri Indah, Jakarta Barat, radang telinga adalah peradangan yang terjadi pada bagian telinga luar (otitis external), telinga bagian tengah (otitis media), dan telinga bagian dalam. "Nyeri, rasa penuh di telinga, berdenging atau kehilangan pendengaran, hati-hati, bisa jadi Anda mengalami otitis (radang telinga). Jenis radang telinga yang umum adalah otitis media, yaitu infeksi pada telinga tengah serta otitis eksterna atau radang telinga luar," terangnya.

Otitis media adalah peradangan dari telinga tengah. Peradangan ini sering kali dimulai dengan infeksi-infeksi yang menyebabkan sakit tenggorokan dan selesma-selesma atau persoalan-persoalan pernapasan lainnya yang menyebar ke telinga tengah. Ini dapat disebabkan oleh virus-virus atau bakteri-bakteri yang menjadi akut atau kronis. Otitis Media akut biasanya timbul dengan cepat dan berdurasi pendek. "Otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah," imbuhnya.

Otitis Media Kronik (OMK) yaitu peradangan telinga tengah yang gigih, secara khas bisa diderita selama sebulan. Ini berbeda dengan infeksi telinga akut (otitis media akut) yang biasanya berlangsung beberapa minggu. "Setelah infeksi akut, cairan mungkin tertinggal di belakang gendang telinga (tympanic membrane) yang mengendap sampai tiga bulan sebelum menghilang," jelasnya.

Otitis media kronis mungkin berkembang setelah periode waktu yang berkepanjangan dengan cairan atau tekanan negatif di belakang gendang telinga. Otitis media kronis dapat menyebabkan kerusakan yang terus menerus pada telinga tengah dan gendang telinga. Dan mungkin ada aliran yang terus menerus melalui lubang pada gendang telinga. Otitis media kronis seringkali dimulai tanpa nyeri dan demam. Tekanan telinga atau telinga yang meletus dapat menjadi gigih untuk berbulan-bulan. "Adakalanya kehilangan pendengaran yang tidak kentara disebabkan oleh otitis media kronik," katanya.

Gejala dan Penyebab

Radang telinga tengah atau Otitis Media Akut (OMA) biasanya disertai demam dan telinga terasa penuh. Jika berlangsung dalam waktu yang lama, hingga menahun, akan berubah menjadi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK), yaitu radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telilnga (membran timpani). "Dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari dua bulan, baik terus-menerus atau hilang-timbul," jelasnya.

Adanya tekanan dari cairan yang terkumpul di dalam telinga tengah, tepatnya pada gendang telinga, akan menimbulkan demam tinggi, mual-mual, muntah, sakit kepala dan selera makan menurun atau hilang. Keluarnya cairan kental dari lubang telinga menandai robeknya gendang telinga akibat tekanan cairan yang sudah demikian kuat. Namun bila peradangan tersebut tidak disertai infeksi, bisa saja gangguan telinga ini hampir tanpa gejala. Atau gejalanya bisa berupa perasaan telinga seperti dipenuhi sesuatu. "Bila ada infeksi, yang biasanya berasal dari infeksi saluran napas bagian atas, gejala yang muncul mirip flu biasa," terangnya.

Sedangkan radang telinga bagian luar disebabkan oleh infeksi. Misalnya karena bakteri dan jamur. Bisa juga non infeksi. Misalnya karena iritasi, exim di telinga, kecelakaan, dan trauma. Radang bagian tengah karena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas). Dan telinga bagian dalam karena penjalaran atau komplikasi dari radang telinga tengah. Infeksi di telinga bagian tengah ini bisa menyebabkan rusaknya struktur-struktur di bagian tengah telinga dan lama-kelamaan akan terjadi komplikasi dari radang telinga, si penderita bisa mengalami pusing berputar dan infeksinya akan menyebar hingga ke otak. "Radang telinga ini lebih banyak diderita oleh anak-anak, sekitar umur 5-10 tahun," katanya.

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK), yaitu komposisi kronik telinga yang disertai perforasi membrane timpani dan keluar sekret secara terus-menerus atau hilang-timbul, biasanya disertai gangguan pendengaran. Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan dari OMA dan sebagian kecil disebabkan oleh perforasi membran timpani akibat trauma telinga. Gambaran klinis OMSK adalah keluar sekret dari telinga tengah. Gangguan pendengaran terjadi secara perlahan-lahan. Rasa sakit timbul bila sudah timbul komplikasi atau OMSK disertai OE. "Pada pemeriksaan fisik tampak membran timpani sudah perforasi," katanya.

Untuk mendeteksi radang telinga dapat dilakukan dengan cara anemnesa, yaitu melihat gendang telinga dengan otoskop. "Selain itu, tes menggunakan garputala dan audiometri juga bisa digunakan. Alat tersebut berfungsi untuk mengetes ketajaman pendengarannya, OAE (oto akustik emation), dan BERA (brea respons audiometri)," jelasnya.

Pengobatan

Sesuai dengan jenis OMSK, pada tipe beningnya bila sekretnya progresif sebaiknya diberikan obat pencuci telinga H2O2 3 persen selama 2-3 hari disertai pemberian antibiotik atau penisilin. Bila sekret sudah berkurang tetapi belum kering, berikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid, antara 10-14 hari lamanya. Penderita OMSK tidak dianjurkan berenang. Bila dengan pengobatan secara konservatif sekret tidak kering, kemungkinan sudah terjadi mastoiditis kronis, sehingga dianjurkan untuk dioperasi. "Pada tipe maligna, pengobatan yang tepat dengan operasi," katanya.

Pencegahannya

Radang telinga bisa dihindari dengan cara menjaga pola hidup sehat dan rajin berolahraga. Usahakan supaya jangan sampai terjadi Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Karena itu diajurkan rajin rajin mencuci tangan karena ISPA mudah menyebar melalui tangan. Jangan membersihkan telinga dengan benda yang ujungnya keras. "Di samping itu, kurangi tingkat polusi udara terutama di dalam rumah dengan tidak merokok, perbaiki sarana sanitasi, gunakan air bersih, serta kecukupan ventilasi ruangan, memperbaiki daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, meningkatkan kebersihan diri dan jangan terlalu lama berada dalam air ketika berenang kalau tidak menggunakan pelindung telinga," jelasnya.
[okezone

Cara Mengoptimalkan Pertumbuhan Otak Pada Anak

Kasih sayang dan stimulasi dini adalah bekal pembentukan otak anak yang cerdas. Lengkapi dengan pola tidur berkualitas sejak bayi supaya otak buah hati Anda tumbuh optimal.

Bayi baru lahir, dengan segala keterbatasannya hanya mampu mengomunikasikan apa yang diinginkan dan rasakan melalui tangisan. Untuk mampu mengerti arti tangisan si kecil, seorang ibu haruslah "dekat" dengan bayinya. Kedekatan ini tak sebatas kontak fisik, tetapi juga kasih sayang sejati yang mengikat ibu-bayi dalam ikatan emosional yang kuat.

"Bayi saya baru berumur lima bulan, sering terbangun dari tidurnya saat tengah malam, lalu menangis keras sekali. Kenapa ya?" keluh Nur, seorang ibu muda yang juga bekerja kantoran.

Menanggapi permasalahan tersebut, dokter spesialis anak dr Soedjatmiko SpA(K) Msi mengungkapkan, kemungkinannya adalah karena sang bayi merasa kangen dengan bundanya yang setiap hari harus meninggalkannya untuk bekerja. "Saat tidur, terutama fase REM (Rapid Eye Movement) atau tidur aktif, terjadi konsolidasi atau pengaturan kembali pengalaman yang didapat si bayi dalam sehari. Begitu pun kesedihan dan kegembiraan yang dirasakan bayi akan tergambar pada fase ini," ujar Soedjatmiko dalam acara "Pampers Sleep Symposium" yang diselenggarakan di Hottel Gran Melia Jakarta, belum lama ini.

Di sisi lain, bayi yang tidurnya gelisah atau sering terbangun pada malam hari juga harus dicek kemungkinan dia terganggu oleh nyamuk, mengompol atau gangguan kulit seperti biang keringat, gatal, dan iritasi akibat baju atau popok yang tidak nyaman. Hal ini penting karena dapat berakibat bayi merasa tidak nyaman, tidak bebas bergerak, siklus tidur terganggu, dan tidak optimal menerima stimulasi yang diberikan. Jika sudah demikian, bayi berisiko terganggu tumbuh-kembangnya.

Perlu diingat bahwasanya perkembangan anak tidak hanya saat dia bergerak, tapi juga saat tidur. Tidur yang berkualitas bagi bayi dan anak adalah momen pertumbuhan otak dan tubuh. Setelah seharian mendapatkan stimulasi bersama ibu dan asupan nutrisi pada malam hari, tubuh bayi mulai mencerna dan berkembang. "Sekitar 175 persen perkembangan otak bayi terjadi pada usia 36 bulan pertama.

Pada saat ini dibutuhkan stimulasi optimal dan nutrisi seimbang," tutur anggota UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu. Ya, tidur berkualitas dan stimulasi. Selain faktor nutrisi, itulah dua faktor penting bagi tumbuh kembang bayi.

Saat tidur, pertumbuhan sel-sel otak berlangsung lebih cepat terutama berpengaruh pada restorasi emosi dan kognitif. Tidur mencakup dua fase, yaitu REM dan Non-REM secara bergantian. Saat REM atau tidur aktif, aliran darah ke otak meningkat dan terjadi autostimulasi fungsi otak sehingga pertumbuhan sel-sel otak lebih cepat. Pada fase ini juga terjadi penataan ulang atau konsolidasi pengalaman yang akan mendukung perkembangan emosi dan kognitif anak. Sedangkan saat non-REM atau tidurtenang, terjadi konservasi energi dan perbaikan sel-sel tubuh, serta pengeluaran hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik. Semakin tua usia anak, fase tidur tenangnya makin lama. "Selain tidur malam, bayi sampai umur tiga tahun masih memerlukan tidur siang. Mulai umur 3-4 tahun, anak sudah tidak harus tidur siang," paparnya.

Tak sedikit juga orangtua yang kerepotan mengajak buah hatinya untuk cepat terlelap. Jika ini terjadi, orangtua diharapkan mengoreksi diri, apakah ini karena kebiasaan orangtua itu sendiri sehingga anak meniru atau ikut terbiasa? Oleh karena itu, cobalah mendisiplinkan diri dan anak Anda. Contohnya dalam hal persiapan menjelang tidur malam, redupkanlah lampu-lampu di rumah (terutama di kamar) dan matikan televisi atau apa pun yang bising. Selanjutnya, ajak bayi masuk kamar dan baringkan di tempat tidur (bisa sambil dipeluk) agar lekas terlelap.

"Untuk mencegah bayi terbangun tengah malam dan merengek ingin bermain sampai pagi, sebaiknya hindari ada banyak mainan di kamar anak. Cukup sediakan satu mainan saja di kamar, mungkin yang kecil, lunak dan harus dipastikan aman," saran dia.

Presenter Dona Agnesia yang memiliki dua putra, Diego (2 tahun) dan Lionel (6 bulan), menyatakan tidak bermasalah dengan pola tidur dua jagoan kecilnya itu.

"Diego kalaupun terbangun dari tidur, biasanya disebabkan ingin menyusu," tutur Dona yang penasaran manakala anaknya mengigau dalam tidur.

"Mengigau tidak masalah, asalkan jangan sampai anak tidur sambil berjalan (sleepwalker). Untuk menenangkan, orangtua bisa menenangkan dengan menepuk-nepuk lembut pantat bayi untuk menimbulkan rasa aman dan nyaman," papar Soedjatmiko.

Stimulasi Sesuai Usia

Kasih sayang dan stimulasi perlu dilakukan sejak janin berusia enam bulan di dalam kandungan. Saat dalam kandungan, umumnya ibu memberi stimulasi dengan memutarkan musik klasik. Namun, kata Soedjatmiko, jika ibu menyukai musik jenis lain, juga tidak masalah. "Musik jenis apa pun boleh, yang penting si ibu hamil senang," tandasnya.

Setelah bayi lahir, stimulasi tetap harus dilanjutkan. Caranya dengan bermain aktif setiap hari, penuh kasih sayang, dan dilakukan dengan gembira. Selain itu, penanaman stimulasi harus berulang dan bervariasi dengan disertai pemberian contoh. Ingatlah bahwa anak belajar dari mendengar, melihat, lantas meniru dan mencobanya. Jika dia berhasil melakukannya, berilah penghargaan yang dapat memotivasinya lagi.

Bentuk stimulasi bisa berbeda dalam setiap tahapan usia. Pada umur 0-3 bulan, ciptakan rasa nyaman, aman, senang dengan memeluk, mencium, atau mengayunnya. Dengan hati-hati, gulingkan bayi ke kanan-kiri, atau tengkurap-telentang (bila perlu belajarlah gerakan senam bayi). Selain itu, tersenyumlah seraya menatap mata bayi dan mengajaknya bicara. Tirukan ocehan, mimik bayi, atau berbagai bunyi, suara, dan musik. Rangsanglah otaknya dengan menggantung mainan berwarna dan berbunyi yang memancing si bayi untuk mengangkat kepala, atau meraih, meraba, dan memegang mainan tersebut.

Beranjak usia 3-6 bulan, stimulasi berlanjut dengan memancing anak mencari sumber suara, bermain "cilukba" dan melihat wajah di cermin. Melihat, meraih, dan menendang mainan juga bagus untuk melatih motoriknya. Ajak juga anak mengamati benda kecil atau benda bergerak. Latih ia mengambil benda kecil dan memegang dengan dua tangan. Pada usia ini, bayi juga biasanya mulai belajar duduk dan makan sendiri.
[okezone]

Berbagai Gangguan Tidur dan Cara Mengatasinya


ADA beberapa hal yang mengganggu jalannya aktivitas seseorang. Salah satu di antaranya adalah gangguan tidur. Kurangnya waktu tidur akan mengakibatkan terjadinya rasa mengantuk.

Kantuk yang berlebih dapat menyebabkan tubuh tidak fit dalam menjalankan kegiatan. Ada beberapa hal yang mengganggu ketika hendak atau dalam keadaan tidur. Di antaranya adalah mendengkur.

Ada beberapa penyebab terjadinya dengkuran. Di antaranya, lemahnya otot langit-langit, bentuk anatomi tulang hidung yang bengkok, serta penyumbatan di daerah belakang tenggorokan akibat radang, infeksi, tumor, serta benturan pada daerah seputar hidung dan rahang.

Posisi kepala menengadah saat tidur juga dapat memicu dengkuran, karena rongga pernapasan menyempit.
Untuk mengatasinya, memiringkan tubuh atau menundukkan kepala saat tidur. Jika disebabkan oleh infeksi tentu saja sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar diberi obat antiinfeksi. Olahraga juga perlu dapat membantu meredakan gangguan tidur seperti mendengkur.

Insomnia atau susah tidur kebanyakan disebabkan karena efek psikologis terutama stress. Pada perempuan, konsumsi zat besi kurang dari 1 mg sehari juga dapat menyebabkan susah tidur.

Jadi, sebaiknya hindari faktor yang memicu timbulnya stres. Selain itu, kebiasan merokok juga dapat menyebabkan insomnia karena nikotin merupakan salah satu zat yang dapat menstimulasi otak sehingga susah untuk tidur. Jadi, hindari merokok.

Sementara itu, hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia. Hipersomnia adalah rasa mrngantuk yang melebihi batas normal.

PENYAKIT

Penyebabnya adalah gangguan pernapasan saat tidur, selain itu sejumlah ahli juga menyatakan bahwa tidur berlebihan juga dapat mengindikasikan adanya penyakit tertentu seperti diabetes, jantung, dan lainnya.

Mungkin juga akibat konsumsi obat-obatan, karena ada beberapa jenis obat-obatan yang dapat memberikan efek samping berupa rasa mengantuk.

Jadi, hindari mengonsumsi obat-obatan, dan bila perlu lakukanlan pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit yang mungkin diderita.

Selain itu, ada juga yang disebut dengan narcolepsy. Keadaan ini lebih parah dari hipersomnia, dimana penderita amat sulit untuk sadar dan nyaris dalam setiap waktu berada dalam kondisi mengantuk.

Namun, penyebabnya sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Untuk itu berkonsultasilah ke dokter.

Somniloqui atau sleep talking (mengigau). Ini adalah mengucapkan kata-kata saat tidur baik dengan jelas maupun sekadar bergumam. Dan mereka yang mengigau biasanya tidak mengingat apa yang telah diucapkan saat tidur ketika telah bangun.

Keadaan ini dapat dipicu akibat keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu akibat mimpi buruk.

Untuk itu, hindari masalah psikologis dan lakukan olahraga yang teratur sehingga tidur bisa nyenyak juga orang yang tidur di samping Anda.

Somnabulisme atau sleep walking. Dalam keadaan tidur seseorang biasanya melakukan kegiatan seperti berjalan atau kegiatan lainnya.

Gangguan tidur seperti ini disebabkan oleh stress, kurang tidur, alkohol, dan bahkan sejumlah peneliti juga menyebutkan dapat disebabkan oleh penyimpangan genetik.

Oleh karena itu sebaikanya istirahatlah yang cukup dan menjaga kesehatan. Jika perlu berkonsultasi dengan dokter.

Sabtu, 13 April 2013

Persistent Genital Arousal Disorder (PGAD), ORGASME YANG TIDAK MENGENAL WAKTU

Di saat banyak perempuan kesulitan mencapai orgasme, seorang gadis justru merasa tersiksa karena mengalami penyakit tidak bisa berhenti orgasme. Kisah nyata ini dialami oleh seorang perempuan Amerika yang memiliki penyakit Persistent Genital Arousal Disorder (PGAD). Penyakit ini mengakibatkan seseorang tidak bisa berhenti orgasme dan menahan rangsangan orgasme, bahkan di saat kondisi non-seksual sekalipun. Dikutip dari Boingboing, perempuan Amerika yang dirahasiakan namanya, menceritakan kisah dan penderitaannya mengidap penyakit PGAD.

“Saya melakukan orgasme pertama kali saat berumur 17 tahun. Ketika itu saya sedang duduk di bangku sekolah, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang hangat dan merangsang bagian kewanitaan saya. Rasanya seperti ada seseorang yang meremas bagian itu dan saya pun mulai terangsang,” ujar wanita itu.

"I had my first orgasm at the age of 17. I was sitting at my desk at school when all of a sudden, I felt a warm, pulsing feeling in my genital area. My vagina flared up and I couldn’t think straight. It was like someone had squeegeed my thoughts away. I was like, whoa, what’s that? It felt really erotic and good, but I was also freaked out, scared, and confused. After that, it started happening a few times a day. I searched online for spontaneous orgasms, but all I found was weird porn. "

"It kept getting worse. During my second semester of senior year, I counted orgasms on a sheet of paper. I was having 100 and 200 a day. I ran to hide in the bathroom between classes to relieve the pressure."
Ia mengatakan bahwa rangsangan itu membuatnya nyaman dan senang tapi juga takut dan bingung. Rangsangan orgasme spontan itu pun dialaminya beberapa kali dalam sehari dan lama kelamaan semakin parah. “Menjelang semester ke-2 saya kuliah, saya coba menghitung dan mencatat di selembar kertas berapa kali orgasme yang saya lakukan. Dan ternyata saya melakukannya 100 hingga 200 kali setiap harinya. Ketika rangsangan itu muncul, saya selalu lari dan sembunyi di kamar mandi untuk melakukan hal itu dan menenangkan diri,” tuturnya.

Orgasme yang ia rasakan membuatnya sangat depresi dan tidak bisa konsentrasi. “Saya tidak tahu apa yang salah dengan saya. Saya sering menangis, sembunyi di kamar mandi dan menjadi sangat protektif terhadap privasi sendiri,” imbuhnya. Ketika ia mencoba menjelaskan pada orang lain tentang kondisinya, mereka justru mengolok-oloknya dan mengatakan, ‘Kamu sangat beruntung, saya mau kencan denganmu’. Bahkan seorang psikiater di kampus menganggapnya gila. Akhirnya ketika tingkat 2, ia memutuskan membeli alat vibrator dan mengonsumsi obat penenang.

Suatu hari pada tahun 2003, sang perempuan menemukan sebuah artikel dari the Boston Globe tentang penemuan sebuah penyakit yang disebut dengan Persistent Sexual Arousal Syndrome (PSAS). “Ketika saya membacanya, saya menangis histeris karena gejala yang disebutkan sama dengan yang saya alami. Saya pun langsung membuat janji bertemu dengan institusi yang memuat artikel itu,” tuturnya. Awalnya para dokter menganggapnya mengidap penyakit Delusional Hypochondriac atau halusinasi berlebihan. Namun setelah dilakukan tes, ternyata ia memang benar-benar mengidap PSAS atau PGAD.

Penyakit ini sering disebut juga sebagai penyakit hipersensitif pada bagian kemaluan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan karena infeksi jamur pada organ kewanitaan, ada juga yang mengatakan penyakit ini berhubungan dengan masalah psikologi, namun belum ada bukti cukup tentang hal itu. “Memiliki penyakit ini bagaikan memiliki detak jantung tambahan di bagian bawah. Dorongan dari bawah itu akan naik ke otak dan mengganggu pikiran. Mungkin ini yang dirasakan pria-pria saat terjadi ereksi,” ujarnya.

Tak hanya menderita karena penyakitnya itu, sang gadis pun harus menanggung beban mental karena orang tuanya tidak mau mengerti dengan keadaannya. “Ibu saya sangat kolot. Ia paling tidak suka mendengar kata orgasme, bahkan ia menganggap saya kotor karena menemukan beberapa vibrator di kamar saya. Ia tidak mau mengerti keadaan saya,” jelasnya.

PSAS adalah penyakit gangguan seksual yang sangat kompleks. Ia tidak hanya muncul ketika menonton film porno atau melihat sesuatu yang merangsang. Tapi ia bisa muncul kapan saja, bahkan dalam kondisi biasa-biasa saja. “Melihat film porno tidak membuat saya terangsang, tapi ketika seseorang menepuk bahu, hasrat itu justru muncul. Saya tidak bisa memprediksi kapan hasrat itu muncul. Untuk mengatasinya, saya menghindari olahraga dan menambah berat badan karena kata orang bisa mengurangi hasrat seksual,” ujarnya.

“Saat ini saya berusia 24 tahun dan sudah banyak belajar mengendalikan penyakit ini. Saya menemukan bahwa olahraga joging dan dansa bisa mengendalikan saya lebih baik. Saya punya kekasih tapi saya belum pernah berhubungan seks dengannya selama 6 tahun berpacaran. Meskipun kondisi saya seperti ini, tapi dia sangat sabar dan selalu menenangkan saya,” tuturnya.

Penyakit PSAS saat ini masih diteliti dan diganti namanya menjadi Persistent Genital Arousal Disorder
(PGAD) untuk menghindari stigma miring tentang penyakit ini. Secara resmi penyakit ini akan dipublikasikan dalam the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders pada tahun 2012 dan studi pengobatannya pun masih diteliti hingga saat ini.

“Penyakit ini muncul tiba-tiba dalam hidup saya dan berharap bisa hilang dengan sendirinya pula. Meskipun saya tidak yakin hal itu bisa terjadi, tapi saya akan berusaha melakukan apa saja untuk mengatasi penyakit ini,” ujar sang gadis yang tertunda 2 tahun kuliahnya karena penyakit tersebut

Pinggang Lebar Berisiko Pikun

PEREMPUAN yang memiliki tubuh berbentuk apel (menyimpan lemak di area perut) tidak hanya berisiko lebih besar meninggal akibat serangan jantung atau stroke, tetapi juga berisiko lebih besar menderita demensia atau pikun. Kabar kurang menyenangkan bagi perempuan yang membawa lemak di sekitar pinggang ini diungkapkan oleh para peneliti dari Sahlgrenska Academy at Gothenburg University di Swedia.

Studi yang mempelajari kesehatan 1.500 perempuan ini menemukan, mereka dengan ukuran pinggang yang lebih lebar dari pinggul berisiko 2 kali lipat lebih besar mengalami kepikunan saat mereka beranjak tua.

"Setiap orang dengan kelebihan lemak di perut berisiko lebih besar mengalami kematian dini akibat serangan jantung dan stroke," tutur peneliti Deborah Gustafson, seperti dikutip situs dailymail."Akan tetapi, jika mereka tetap hidup hingga usia di atas 70, mereka berisiko besar mengalami kepikunan."

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology ini didasarkan pada studi populasi yang dilakukan terhadap perempuan di Gothenburg. Studi ini diawali pada 1960-an dengan melibatkan partisipan berusia antara 38 dan 60. Di awal studi, mereka diminta menjalani pemeriksaan dan menjawab pertanyaan seputar kesehatan dan gaya hidup mereka.

Survei follow-up yang dilakukan sekitar 32 tahun kemudian menemukan, 161perempuan telah mengalami kepikunan, dengan usia rata-rata 75 saat terdiagnosis. Studi juga mengungkap bahwa partisipan dengan ukuran pinggang lebih lebar dibandingkan pinggul saat usia pertengahan berisiko 2 kali lipat lebih besar mengalami demensia saat mereka memasuki usia tua.

Studi sebelumnya juga telah menemukan bahwa kelebihan lemak di area perut meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 70% dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 80%

Lilin untuk Media Penyembuhan

DUNIA pengobatan tidak hanya berkembang di dunia kedokteran modern saja. Semakin banyak ditemukan terapi energetik dan penyembuhan penyakit holistik. Salah satunya candle healing yang memakai lilin sebagai sumber energi. Bila berkaca kepada pandangan awam, sulit rasanya mempercayai bahwa pancaran cahaya dari sebatang lilin mampu menyembuhkan penyakit seseorang. Namun, penyembuhan dengan menggunakan lilin atau candle healing itu bukan sekadar terapi asal-asalan.

"Konsep dasarnya bisa dijelaskan secara keilmuan, juga didukung sejumlah percobaan dan praktik pengobatan masa lampau di Yunani, Mesir, India, dan China," kata pelopor Candle Healing di Indonesia, Eryca Sudarsono.Pada awal abad ke-17, Isaac Newton berhasil memisahkan berkas-berkas cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda dalam 7 spektrum cahaya.

Temuan tersebut lalu diaplikasikan oleh Dinash P Ghadiali dan Hari Spitler pada awal abad ke-19 melalui Spectro Chromotherapy. Suatu teknik penyembuhan penyakit tertentu dengan menggunakan berbagai macam cahaya. Sementara itu, profesor psikologi sekaligus peneliti asal Swiss dari Universitas Basel, Max Luscher, bersama Theo Gimbel, mengembangkan sistem analisa warna untuk menentukan karakteristik psikologis dan fisiologis seseorang berdasarkan warna pilihan mereka. Metode candle healing yang dikenal saat ini merupakan perkembangan dari temuan-temuan tersebut. Lalu menjadi salah satu metode penyembuhan komplementer.

Pengobatan medis acap kali hanya menyembuhkan secara fisik. Padahal dalam tubuh manusia juga terdapat ruh atau jiwa. "Keduanya yaitu jiwa dan raga harus diseimbangkan sehingga menjadi sumber kekuatan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mungkin tidak teratasi secara medis," ungkap Eryca.
http://lifestyle.okezone.com/