MAAF BLOG INI SEDANG DALAM PENGERJAAN.
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

10 Hal Yang Tidak Perlu Dilakukan Sebelum Usia 30

Pada usia antara 20 hingga 30 tahun, menurut dr. Eddy Karta, Sp.KK, kulit berada dalam kondisi paling prima. Terlalu banyak dirawat justru akan berakibat kurang baik untuk kulit. Jika ada perawatan yang boleh dilakukan, biasanya lebih pada kulit yang bermasalah atau untuk menjaga agar kulit tetap pada kondisi prima. Apa saja, sih, hal-hal yang belum perlu dilakukan sebelum usia 30?

1. Hindari peeling yang berat seperti mikrodermabrasi atau chemical peeling berlebihan. Dilakukan jika wajah bermasalah dengan jerawat/muncul freckles. Sebaiknya lakukan di akhir usia 20-an.
Solusi: Lakukan scrubbing secara berkala dengan produk aman dan ringan, maksimal 3 kali seminggu

2. Belum perlu botox.
Botox yang diperbolehkan hanya untuk memperbaiki gangguan otot, seperti kedutan berulang. Anda belum perlu botox untuk mengatasi kerut wajah, karena sel kulit masih aktif dan bisa ditingkatkan kekenyalannya.
Solusi: Untuk mempercantik wajah, lakukan perawatan rutin, jaga makanan, tidur cukup, serta olahraga. Jangan lupa merawat kekenyalan kulit dengan pelembap di pagi hari dan krim malam sebelum tidur.

3. Hindari produk anti penuaan yang agresif seperti filler atau suntik hormon. Kulit Anda masih dalam kondisi prima, sehingga belum perlu filler atau suntikan hormon. Hormon yang berlebihan justru memberi dampak negatif, seperti munculnya bercak dan vlek pada kulit.
Solusi: Pakai produk antipenuaan yang aman dan ringan, seperti krim antikerut atau vitamin antioksidan

4. Jangan mencoba sembarang pemutih kulit
Tak sedikit produk pemutih yang mengandung merkuri. Pemutih ini memang memberikan hasil instan dalam waktu singkat. Jika digunakan dalam jangka panjang, akan terjadi endapan logam merkuri pada kulit. Jika Anda berhenti, kulit tampak lebih hitam dari semula. Sama halnya dengan kandungan hidroquinone pada pemutih. Penggunaan hidroquinone dalam waktu lama membuat warna kulit tidak rata.
Solusi: Gunakan produk pemutih yang terdaftar resmi. Sebaiknya selalu konsultasikan dengan dokter agar kesehatan kulit terus terpantau. Apabila Anda telanjur mengalami salah satu masalah kulit tersebut di atas, segera lakukan perawatan intensif pada dokter kulit. Kulit dapat kembali pada kondisi semula, dengan syarat Anda melakukan perawatan teratur dalam jangka panjang.

5. Jangan mudah tergiur kosmetik berkolagen.
Kolagen memang membuat kulit kenyal & awet muda. Tapi, tak dapat diserap hanya dengan dioleskan. Suntik kolagen sebaiknya ditunda, karena di usia 20-an kondisi jaringan otot dan kulit masih sangat sehat.
Solusi: Untuk merangsang kolagen, Anda dapat mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung protein dan asam amino. Selain itu, Anda dapat menggunakan produk oles yang mengandung tretinoin dalam kadar ringan, dengan pengawasan dokter.

6. Belum perlu suntik vitamin C.
Vitamin C adalah antioksidan terbaik bagi kulit, yang mampu mencegah penuaan dini. Pada usia di bawah 30 tahun, kebutuhan vitamin C masih dapat diatasi secara efektif dengan konsumsi secara oral.
Solusi: Sertakan buah dan sayuran berkandungan vitamin C tinggi dalam menu makan sehari-hari.

7. Jangan sembarangan mengonsumsi suplemen.
Suplemen yang baik untuk kulit adalah yang mengandung antioksidan, antara lain vitamin C dan E. Jangan berlebihan mengonsumsi suplemen. Pada dasarnya isi suplemen satu dengan yang lainnya hampir sama.
Solusi: Cermati kandungan suplemen yang Anda konsumsi. Untuk umur di bawah 30, yang diperlukan adalah suplemen antioksidan seperti tablet vitamin C dan E. Gunakan sesuai dosis harian yang dianjurkan.

8. Sedot lemak (liposuction) belum perlu dilakukan.Lemak tubuh mulai terdeposit pada usia 30 tahun. Sebelum usia tersebut, sistem kerja tubuh kita masih baik, sehingga tak perlu dilakukan sedot lemak.
Solusi: Olahraga teratur, pengaturan pola makan kaya serat dapat menghindarkan penumpukan lemak.

9. Tunda operasi tarik wajah (facelift).
Pada saat umur masih 20-30 tahun, kekenyalan dan elastisitas kulit masih sangat baik. Sehingga, belum perlu dilakukan facelift.
Solusi: Oleskan krim antikerut yang mengandung tretinoin (turunan dari vitamin A untuk menahan proses penuaan, menghambat efek buruk matahari, dan penipisan kolagen).

10. Tunda dulu tummy tuck atau operasi membuang lemak dan kulit di area perut. Perut menggelambir akibat melahirkan membuat banyak wanita merasa perlu melakukan tummy tuck. Tapi, sebaiknya Anda tak melakukannya. Sebelum usia 30, biasanya sistem metabolisme tubuh masih sangat bagus, sehingga kulit daerah tersebut bisa kembali normal dengan bantuan olahraga dan krim oles.
Solusi: Hindari makanan berlemak dan lakukan olahraga pembentukan otot secara teratur.

Cara Mengoptimalkan Pertumbuhan Otak Pada Anak

Kasih sayang dan stimulasi dini adalah bekal pembentukan otak anak yang cerdas. Lengkapi dengan pola tidur berkualitas sejak bayi supaya otak buah hati Anda tumbuh optimal.

Bayi baru lahir, dengan segala keterbatasannya hanya mampu mengomunikasikan apa yang diinginkan dan rasakan melalui tangisan. Untuk mampu mengerti arti tangisan si kecil, seorang ibu haruslah "dekat" dengan bayinya. Kedekatan ini tak sebatas kontak fisik, tetapi juga kasih sayang sejati yang mengikat ibu-bayi dalam ikatan emosional yang kuat.

"Bayi saya baru berumur lima bulan, sering terbangun dari tidurnya saat tengah malam, lalu menangis keras sekali. Kenapa ya?" keluh Nur, seorang ibu muda yang juga bekerja kantoran.

Menanggapi permasalahan tersebut, dokter spesialis anak dr Soedjatmiko SpA(K) Msi mengungkapkan, kemungkinannya adalah karena sang bayi merasa kangen dengan bundanya yang setiap hari harus meninggalkannya untuk bekerja. "Saat tidur, terutama fase REM (Rapid Eye Movement) atau tidur aktif, terjadi konsolidasi atau pengaturan kembali pengalaman yang didapat si bayi dalam sehari. Begitu pun kesedihan dan kegembiraan yang dirasakan bayi akan tergambar pada fase ini," ujar Soedjatmiko dalam acara "Pampers Sleep Symposium" yang diselenggarakan di Hottel Gran Melia Jakarta, belum lama ini.

Di sisi lain, bayi yang tidurnya gelisah atau sering terbangun pada malam hari juga harus dicek kemungkinan dia terganggu oleh nyamuk, mengompol atau gangguan kulit seperti biang keringat, gatal, dan iritasi akibat baju atau popok yang tidak nyaman. Hal ini penting karena dapat berakibat bayi merasa tidak nyaman, tidak bebas bergerak, siklus tidur terganggu, dan tidak optimal menerima stimulasi yang diberikan. Jika sudah demikian, bayi berisiko terganggu tumbuh-kembangnya.

Perlu diingat bahwasanya perkembangan anak tidak hanya saat dia bergerak, tapi juga saat tidur. Tidur yang berkualitas bagi bayi dan anak adalah momen pertumbuhan otak dan tubuh. Setelah seharian mendapatkan stimulasi bersama ibu dan asupan nutrisi pada malam hari, tubuh bayi mulai mencerna dan berkembang. "Sekitar 175 persen perkembangan otak bayi terjadi pada usia 36 bulan pertama.

Pada saat ini dibutuhkan stimulasi optimal dan nutrisi seimbang," tutur anggota UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu. Ya, tidur berkualitas dan stimulasi. Selain faktor nutrisi, itulah dua faktor penting bagi tumbuh kembang bayi.

Saat tidur, pertumbuhan sel-sel otak berlangsung lebih cepat terutama berpengaruh pada restorasi emosi dan kognitif. Tidur mencakup dua fase, yaitu REM dan Non-REM secara bergantian. Saat REM atau tidur aktif, aliran darah ke otak meningkat dan terjadi autostimulasi fungsi otak sehingga pertumbuhan sel-sel otak lebih cepat. Pada fase ini juga terjadi penataan ulang atau konsolidasi pengalaman yang akan mendukung perkembangan emosi dan kognitif anak. Sedangkan saat non-REM atau tidurtenang, terjadi konservasi energi dan perbaikan sel-sel tubuh, serta pengeluaran hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik. Semakin tua usia anak, fase tidur tenangnya makin lama. "Selain tidur malam, bayi sampai umur tiga tahun masih memerlukan tidur siang. Mulai umur 3-4 tahun, anak sudah tidak harus tidur siang," paparnya.

Tak sedikit juga orangtua yang kerepotan mengajak buah hatinya untuk cepat terlelap. Jika ini terjadi, orangtua diharapkan mengoreksi diri, apakah ini karena kebiasaan orangtua itu sendiri sehingga anak meniru atau ikut terbiasa? Oleh karena itu, cobalah mendisiplinkan diri dan anak Anda. Contohnya dalam hal persiapan menjelang tidur malam, redupkanlah lampu-lampu di rumah (terutama di kamar) dan matikan televisi atau apa pun yang bising. Selanjutnya, ajak bayi masuk kamar dan baringkan di tempat tidur (bisa sambil dipeluk) agar lekas terlelap.

"Untuk mencegah bayi terbangun tengah malam dan merengek ingin bermain sampai pagi, sebaiknya hindari ada banyak mainan di kamar anak. Cukup sediakan satu mainan saja di kamar, mungkin yang kecil, lunak dan harus dipastikan aman," saran dia.

Presenter Dona Agnesia yang memiliki dua putra, Diego (2 tahun) dan Lionel (6 bulan), menyatakan tidak bermasalah dengan pola tidur dua jagoan kecilnya itu.

"Diego kalaupun terbangun dari tidur, biasanya disebabkan ingin menyusu," tutur Dona yang penasaran manakala anaknya mengigau dalam tidur.

"Mengigau tidak masalah, asalkan jangan sampai anak tidur sambil berjalan (sleepwalker). Untuk menenangkan, orangtua bisa menenangkan dengan menepuk-nepuk lembut pantat bayi untuk menimbulkan rasa aman dan nyaman," papar Soedjatmiko.

Stimulasi Sesuai Usia

Kasih sayang dan stimulasi perlu dilakukan sejak janin berusia enam bulan di dalam kandungan. Saat dalam kandungan, umumnya ibu memberi stimulasi dengan memutarkan musik klasik. Namun, kata Soedjatmiko, jika ibu menyukai musik jenis lain, juga tidak masalah. "Musik jenis apa pun boleh, yang penting si ibu hamil senang," tandasnya.

Setelah bayi lahir, stimulasi tetap harus dilanjutkan. Caranya dengan bermain aktif setiap hari, penuh kasih sayang, dan dilakukan dengan gembira. Selain itu, penanaman stimulasi harus berulang dan bervariasi dengan disertai pemberian contoh. Ingatlah bahwa anak belajar dari mendengar, melihat, lantas meniru dan mencobanya. Jika dia berhasil melakukannya, berilah penghargaan yang dapat memotivasinya lagi.

Bentuk stimulasi bisa berbeda dalam setiap tahapan usia. Pada umur 0-3 bulan, ciptakan rasa nyaman, aman, senang dengan memeluk, mencium, atau mengayunnya. Dengan hati-hati, gulingkan bayi ke kanan-kiri, atau tengkurap-telentang (bila perlu belajarlah gerakan senam bayi). Selain itu, tersenyumlah seraya menatap mata bayi dan mengajaknya bicara. Tirukan ocehan, mimik bayi, atau berbagai bunyi, suara, dan musik. Rangsanglah otaknya dengan menggantung mainan berwarna dan berbunyi yang memancing si bayi untuk mengangkat kepala, atau meraih, meraba, dan memegang mainan tersebut.

Beranjak usia 3-6 bulan, stimulasi berlanjut dengan memancing anak mencari sumber suara, bermain "cilukba" dan melihat wajah di cermin. Melihat, meraih, dan menendang mainan juga bagus untuk melatih motoriknya. Ajak juga anak mengamati benda kecil atau benda bergerak. Latih ia mengambil benda kecil dan memegang dengan dua tangan. Pada usia ini, bayi juga biasanya mulai belajar duduk dan makan sendiri.
[okezone]

Sabtu, 13 April 2013

Pinggang Lebar Berisiko Pikun

PEREMPUAN yang memiliki tubuh berbentuk apel (menyimpan lemak di area perut) tidak hanya berisiko lebih besar meninggal akibat serangan jantung atau stroke, tetapi juga berisiko lebih besar menderita demensia atau pikun. Kabar kurang menyenangkan bagi perempuan yang membawa lemak di sekitar pinggang ini diungkapkan oleh para peneliti dari Sahlgrenska Academy at Gothenburg University di Swedia.

Studi yang mempelajari kesehatan 1.500 perempuan ini menemukan, mereka dengan ukuran pinggang yang lebih lebar dari pinggul berisiko 2 kali lipat lebih besar mengalami kepikunan saat mereka beranjak tua.

"Setiap orang dengan kelebihan lemak di perut berisiko lebih besar mengalami kematian dini akibat serangan jantung dan stroke," tutur peneliti Deborah Gustafson, seperti dikutip situs dailymail."Akan tetapi, jika mereka tetap hidup hingga usia di atas 70, mereka berisiko besar mengalami kepikunan."

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology ini didasarkan pada studi populasi yang dilakukan terhadap perempuan di Gothenburg. Studi ini diawali pada 1960-an dengan melibatkan partisipan berusia antara 38 dan 60. Di awal studi, mereka diminta menjalani pemeriksaan dan menjawab pertanyaan seputar kesehatan dan gaya hidup mereka.

Survei follow-up yang dilakukan sekitar 32 tahun kemudian menemukan, 161perempuan telah mengalami kepikunan, dengan usia rata-rata 75 saat terdiagnosis. Studi juga mengungkap bahwa partisipan dengan ukuran pinggang lebih lebar dibandingkan pinggul saat usia pertengahan berisiko 2 kali lipat lebih besar mengalami demensia saat mereka memasuki usia tua.

Studi sebelumnya juga telah menemukan bahwa kelebihan lemak di area perut meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 70% dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 80%