MAAF BLOG INI SEDANG DALAM PENGERJAAN.
Tampilkan postingan dengan label Pengobatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengobatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

SEL PUNCA BISA DIPERGUNAKAN UNTUK OBAT AIDS

Pengobatan AIDS dan diabetes melitus terus menjadi topik utama penelitian. Salah satunya, para peneliti di Universitas Airlangga, Surabaya. Mereka berhasil mengembangkan metode pemanfaatan sel punca ( Stem Cells ). Tim peneliti mengundang para dokter untuk mengujinya ke pasien.

Ketua Tim Peneliti Unair, Fedik Abdul Rantam mengungkapkan, riset sel punca dimulai 2007. Unair memulainya dengan pengembangan untuk rekonstruksi tulang dan tendon. ”Selanjutnya kami kembangkan untuk rekonstruksi kardiovaskular dan sistem imun. Hasil in vitro (pengujian praklinis di laboratorium) bagus. Sekarang kami juga sedang uji praklinis (uji kepada hewan) dan sejauh ini cukup positif,” tutur Fedik, Jumat (6/11) di Surabaya, Jawa Timur.

Hasil riset itu diyakini dapat digunakan untuk mengobati AIDS dan diabetes yang selama ini kita ketahui tidak ada obatnya. Penelitian mereka memungkinkan tubuh membentuk sel baru yang sehat. Dengan sel punca, tubuh bisa membuat sel kekebalan baru pada pengidap penyakit AIDS. Sedangkan pada pengidap diabetes, sel punca bisa membentuk lagi sel beta pankreas yang normal.

Kemudian guru besar Virologi Unair itu juga mengatakan, kuncinya terletak pada metode yang memungkinkan sel punca dewasa kembali menjadi sel punca muda. Sel punca muda bisa berkembang menjadi apa saja, tergantung akan dimanfaatkan untuk apa.

Metode itu penting karena tim hanya mengambil sel punca dari orang dewasa. Sel punca tersebut sudah tidak mungkin berkembang lagi, kecuali mengikuti jaringan asalnya. ”Hanya sel punca embrio yang bisa berkembang menjadi apa saja. Etika tidak memungkinkan tim mengambil sel punca embrio karena sama dengan menghilangkan nyawa,” ujarnya.

Sel punca sendiri merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi untuk dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Kemampuan tersebut memungkinkan sel induk menjadi sistem perbaikan tubuh dengan menyediakan sel-sel baru selama organisme bersangkutan hidup.

Peneliti medis meyakini bahwa penelitian sel induk berpotensi untuk mengubah keadaan penyakit manusia dengan cara digunakan memperbaiki jaringan atau organ tubuh tertentu. Namun demikian, hal ini tampaknya belum dapat benar-benar diwujudkan dewasa ini.

Sel punca embrio hanya bisa didapat saat janin baru berusia beberapa hari. Pengambilan sel punca embrio akan sama dengan membunuh janin.

”Sebagai dokter, kami terikat sumpah untuk menyelamatkan nyawa, bukan menghilangkannya. Metode ini (pembalikan perkembangan sel punca) memungkinkan kami menyelamatkan nyawa tanpa menghilangkan nyawa lain,” katanya.

”Selama ini sel punca yang sudah dimudakan kami tidurkan agar tidak berkembang. Sayang sekali kalau hasil riset hanya ditidurkan saja seperti itu,” ungkapnya. Ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU Dr Soetomo, Surabaya, Askandar menegaskan, pihaknya menunggu perkembangan riset tim Fedik.

Dilain pihak, Pusat Diabetes dan Nutrisi sangat berharap ada metode pengobatan yang memungkinkan penderita diabetes bisa benar-benar sembuh. ”Obat-obatan yang ada saat ini hanya untuk mengendalikan dampak. Tidak bisa benar-benar menyembuhkan karena ada sel yang rusak,” ujarnya.

Askandar sepakat, harus ada dorongan dari pemerintah agar hasil riset itu bisa segera diaplikasikan. Apalagi, proses penelitian yang dijalankan sama sekali tidak melanggar etika. ”Kalau bisa, uji klinis dan sukses, ini akan menjadi sejarah pengobatan,” katanya.

Jumat, 27 November 2009

Penglihatan Jernih dengan Saring Darah

DIKETEMUKAN sistem pengobatan baru yang bekerja lebih baik dalam memperbaiki penglihatan pasien dibandingkan penggunaan placebo. Menyaring darah dinyatakan sebagai cara baru dalam menangani gangguan mata terkait usia (macular degeneration/AMD). Proses menyaring darah ini bekerja dengan cara mengangkat kotoran, seperti kolesterol, yang bisa mengganggu aliran darah ke bagian belakang mata.

AMD merupakan penyebab utama hilangnya penglihatan yang tidak bisa dipulihkan pada laki-laki dan perempuan berusia di atas usia 50. Gangguan ini diyakini diderita oleh lebih dari setengah juta orang, meskipun beberapa kasus tidak terdiagnosis.

AMD dibedakan menjadi 2 tipe, kering dan basah. AMD kering, yang diderita oleh 90% pasien, merupakan hasil dari kerusakan macular (bagian tengah retina, area sensitif cahaya yang berada di belakang bola mata) yang berlangsung secara bertahap. Perburukan tersebut mengganggu kemampuan retina dalam membuang produk-produk sampah atau menyerap nutrisi. Sebagai akibatnya, pandangan mata semakin kabur.

AMD basah, yang diderita oleh 1 dari 10 pasein, potensial menimbulkan gangguan yang lebih serius dan bisa berkembang dengan sangat cepat. Gejala awalnya seringkali sama dengan AMD kering, tapi selanjutnya pembuluh-pembuluh darah kecil di bawah retina membesar dan mengeluarkan darah dan cairan. Hal ini bisa memicu munculnya luka goresan pada retina dan gangguan penglihatan permanen.

Apa penyebabnya? Penyebab pasti AMD belum diketahui Tapi merokok dinyatakan meningkatkan risiko hingga 3 kali lipat. Selain itu, kolesterol tinggi juga dikaitkan dengan penambahan risiko. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa pada pasien AMD, protein dan kolesterol jahat bisa tertimbun di pembuluh darah yang berfungsi memberi makan retina. Penyumbatan ini mengganggu proses sirkulasi serta suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.

Rheopheresis

Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan kedua jenis AMD ini secara total. Pasien dengan AMD basah biasanya menjalani berbagai pengobatan yang bisa mencegah perkembangan AMD. Akan tetapi, pasien penderita AMD kering biasanya tetap harus menggunakan alat bantu, seperti kaca pembesar. Namun sisitem pengobatan baru yang dikenal dengan rheopheresis ini diharapkan bisa membantu pasien AMD kering

Bagaimana prosesnya?

Prosesnya hampir sama dengan dialisis (cuci darah). Pasien dihubungkan dengan pompa darah melalui pipa streril. Darah akan dialirkan melalui penyaring dalam pompa untuk mengumpulkan produk-produk sampah. Darah bersih yang sudah disaring selanjutnya akan dipompa kembali ke tubuh pasien. Keseluruhan proses memerlukan waktu 2-3 jam.

Sekitar 3 liter darah akan disaring setiap sesinya, dan pasien biasanya menjalani total 8 sesi. Akan tetapi, belum dipastikan kalau proses ini cukup dilakukan sekali saja atau harus dilakukan kembali ke depannya.

Sebuah studi dari Jerman yang melibatkan 72 pasien menemukan, 43% pasien mengalami perlambatan perkembangan penyakit. Dua puluh delapan persen bisa mebaca 1 atau 2 baris ekstra ke bawah dari daftar penglihatan mata standar; 29% bahkan bisa membaca 3 bari ekstra ke bawah.

"Ini merupakan perkembangan yang menarik untuk pasien dengan penyakit yang belum mempunyai pengobatan ril. Setiap perkembangan penting dan bisa membuka pemahaman yang lebih luas mengenai kondisi tersebut," terang David Craig, direktur operasional asosiasi dokter mata, seperti dikutip situs dailymail.